BLACKPOST | Depok | Kedai Lekker bekerjasama dengan BNCC menggelar acara kupas buku kisah hidup dari seorang Tokoh Budaya Betawi Depok, Haji Nuroji, berjudul ‘Juki; Sungai Tak Bermuara’ di Kedai Lekker Jalan Sersan Aning Pancoran Mas Kota Depok pada Rabu (21/09). Acara ini dihadiri oleh para sastrawan, seniman dan jurnalis.
Tora Kundera, selaku penggagas acara ini, mengatakan bahwa karya ini adalah sebuah karya intelektual dari ‘Orang Depok’. “Buku adalah karya kebudayaan yang perlu kita apresiasi dan kita sebarkan agar menjadi pengetahuan dan inspirasi bagi masyarakat luas,” ujar Tora sebelum acara di mulai.
Tora menambahkan bahwa karya-karya warga Depok, akan kami kupas dan kami apresiasi sebagai bentuk kepedulian kami terhadap karya-karya orang Depok. Sebab itulah Tora yang juga merupakan Ketua Komunitas Sastra Depok tertarik untuk mengupas karya-karya literasi yang dibuat oleh warga Depok.
Hadir dalam acara kupas buku tersebut sebagai narasumber yaitu Haji Nuroji selaku Tokoh Budaya Betawi Depok yang memiliki biografi, lalu Hannoeng M Nur selaku penulis biografi, dan Sihar Ramses Simatupang seorang sastrawan dan mantan Redaktur Harian Sinar Harapan yang menjadi pengupas buku.
Catatan penulis " Ilmu Ikhlas Bang Nuroji " .
Kehidupan Bang Nuroji adalah rangkaian panjang cerita yang di dalamnya terkandung kekecewaan, kemarahan, kegelisahan, pemberontakan, juga sakit hati disamping tentu saja ada kebahagiaan. Pada berbagai bagian kehidupannya, bang NurOji mengalami kekecewaan karena dikhianati teman bisnis, terhina oleh perlakuan arogan pemegang kuasa, tersakiti hatinya oleh karena ketidak- adilan, bahkan kehancuran psikis karena kemiskinan.
Namun seperti halnya matahari yang selalu terang saat mendung berlalu, Bang NurOji selalu pula bangkit dari semua rasa itu. Ia secara manusiawi kerap kali marah saat menerima perlakuan yang seolah merendahkannya, namun setiap kali rasa marah itu muncul, saat itu pula ia tutup pintu bagi masuknya rasa dendam.
"Gua percaya selalu ada kebaikan di balik keburukan" kata Bang NurOji.
Bang Nuroji percaya pada adagium blessing disguise. Sesuatu yang menyakitkan hari ini bisa jadi adalah pintu pembuka kebahagiaan di hari esok. Kalau engkau sedang menikmati minuman yang manis, maka sebelumnya minuman itu terasa pahit, hingga ada gula yang dimasukkan ke dalamnya.
Keiklasan. Mungkin keiklasan adalah bahasa rahasia antara manusia dengan Tuhan., namun dalam konteks manusiawi hal itu bisa juga terasakan. Ketika Bang NurOji tersakiti atau jatuh ke lubang kemiskinan, lalu saat itu iamersasa tenang dan menerima semuanya, maka dapatlah dikatakan ia tengah menjalani rasa iklas. Salah satu wujud keikhlasan adalah bagaimana seseorang bangkit dari keterpurukan dengan tetap tersenyum dan menjaga pandangan husnudzon terhadap Tuhan-nya. Itulah yang dilakukan Bang NurOji.
Kenapa harus "Juki", bukan NurOji atau Oji ?
" Kalo orang baca buku ini, gua pengen mereka bisa dapetin nilai - nilai kebaikan, bukan sekedar tau lebih tentang gua. Itu makanya kenapa nama gua di buku ini juki, bukan mama asli gua. Juki itu bisa siapa aja, dengan pengalaman mssing- masing yang beda tapi punya keikhlasan dan kegigihan yang sama. Nggak harus gua, " ujar Bang NurOji.
(Larry/BLACKPOST)



0 Comments