KOLABORASI KEMENTRIAN PERTANIAN DENGAN MAPORINA UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KEDELAI LOKAL


BLACKPOST | BantenMenteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) menggenjot pengembangan produksi kedelai, Tujuanya untuk meningkatkan produksi nasional dan volume ekspor sehingga di tengah dampak pandemi covid 19 sektor pertanian semakin tangguh terhadap perekonomian nasional. 


Kementerian Pertanian (Kementan) menerapkan berbagai upaya dalam meningkatkan produksi hingga mewujudkan swasembada kedelai, untuk mendorong kebutuhan nasional. Di antaranya dengan memberikan bantuan sarana produksi, alat pra panen dan pasca panen, serta mendorong para petani untuk menggunakan fasilitas kredit usaha rakyat (KUR) dan pengembangan pertanian berbasis korporasi dan klister. Upaya lain yang tak kalah penting adalah pengembangan varietas benih unggul produktivitas tinggi. Produktivitas kita tingkatkan sehingga produksi surplus, impor berkurang dan kita terus tingkatkan ekspor. Jangan bergantung pada impor.




Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan alasan produksi kedelai dalam negeri masih sangat lemah, sehingga tergantung pada impor. Menurutnya, struktur harga yang ada saat ini tak menguntungkan bagi petani apabila mereka menanam kedelai. Kita tergantung lebih dari 12 tahun impor kedelai karena harga (kedelai) luar Rp 5.000-an (per kilogram), sementara petani kita tidak bisa untung kalau (menjual kedelai) di bawah Rp 7.000, Produksi Kedelai Lokal Tak Sampai 10 Persen dari Kebutuhan Nasional. Ia menambahkan, saat ini, 1 hektar lahan hanya dapat menghasilkan kedelai dengan rata-rata bobot sekitar 1,5 ton. Itu artinya, setiap hektar lahan yang ditanami kedelai bernilai sekitar Rp 13 juta saja.



Untuk itu pada selas 14 september 2022 Menteri pertanian dan rombongan melakukan kolaborasi dengan Masyarakat petani Organik Indonesia ( MAPORINA ) di kampung Cikutu desa Rancasanggal, kecamatan Cinangka, Serang, Banten. Tempat  Pusat  Penelitian Pengembangan dan Penerapan Bioteknologi  Mikroba google ( P4 B Migo ) untuk mengadakan panen raya kedelai lokal varietas Migo.


Pada acara tersebut Menteri Pertanian turun langsung ke lapangan untuk membuktikan hasil penanaman kedelai dengan varietas Migo. “Alhamdulillah Maporina dari hasil panen kedelai lokal produktivitas tinggi dengan teknologi Migo sudah mampu menghasilkan 4,7 ton/ ha “, sungguh luar biasa Tutur Prof DR Ali Zum Mashar sebagai wakil ketua Maporina Ketika mendampingi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo pada panen raya kedelai di lahan P4B MIGO Cinangka.

Hasil ubinan panen kedelai produktivitas tinggi Kab. Serang tgl 14 Sept 2022

Ubinan 2,5 x 2,5 = 6,25

10.000 m : 6,25 = 1600 m

Hasil timbangan polong basah = 18,51 kg

18,51 x 1.600 = 29.616 kg polong basah

29.616 x 34%  (konversi BPS polong basah) = 10.069 kg polong basah

Biji kering susut 40% (10.069 x 60%) = 6.041 kg (6 ton) biji kering. 

(Supri/BP) 

Redaktur: Larry / BP

Post a Comment

0 Comments