Oleh : Parto Bangun Pangaribuan [PARTOBA]
"PARA PENGURUS SEPAKBOLA INDONESIA MEMANG BIADAB!!!!" #pepememe
135 mayat suporter korban tragedy Kanjuruhan dianggap bukan hal yang serius. Bahkan terkesan menjadi "tumbal" atas keberlangsungan gelaran sepakbola di negeri yang memang sudah terbiasa dengan adab bar-bar.
Sejak republik ini berdiri dengan nama INDONESIA, pembunuhan kolosal sepertinya sudah menjadi hal yang biasa saja dan bahkan akan menjadi budaya.
Terbukti, deretan peristiwa pembunuhan massal pernah terjadi di republik ini, seperti:
1. Peristiwa Madiun 48 yang menelan korban lebih dari 100 nyawa. Lalu kemudian...
2. Peristiwa paling kelam dalam sejarah Indonesia, G30S/??? '65 dan rangkaiannya. Konon dalam peristiwa ini memakan korban paling banyak, sekitar ratusan ribu nyawa bahkan diklaim mencapai 1 juta lebih yang terjadi dalam kurun waktu 2 tahun. Lalu...
3. Pembantaian Santa Cruz '91 yang menelan korban 273 orang. Pembunuhan massal yang dilakukan oleh TNI terhadap warga sipil di Timor-timor.
4. Kemudian Kerusuhan Mei '98 di Jakarta dan beberapa kota lainnya yang sampai sekarang tidak jelas berapa ratus jumlah korbannya.
5. Pembantaian dukun Santet di Banyuwangi dan sekitaran Jawa Timur yang korbannya lebih dari 300 orang.
6. Konflik Ambon yang terjadi sejak tahun 1999-2002 juga menjadi catatan hitam bangsa ini, korbannya diperkirakan mencapai 5000 orang.
7. Tahun 2001, juga menjadi catatan sejarah memilukan, di mana konflik berdarah antar etnis di Sampit menelan korban hingga 500 orang lebih
8. Bom Bali 1 dan 2 tahun 2002 dan 2005, total menewaskan 411 orang.
Demikian beberapa peristiwa besar yang pernah terjadi di republik yang katanya BERAGAMA, BERIMAN dan BERTUHAN serta berasaskan PANCALISA dan berlandaskan HUKUM namun berperilaku BIADAB.
Masih banyak lagi catatan peristiwa-peristiwa pembunuhan keji yang memakan korban puluhan orang, yang terlalu panjang jika harus saya paparkan satu per satu. Seperti Malari, 27 Juli, dll. Baik itu peristiwa konflik politik maupun peristiwa konflik sosial. Baik yang dilakukan oleh aparat TNI atau Polisi (penegak hukum) maupun yang dilakukan oleh sesama warga sipil, apalagi yang dilakukan oleh rezim penguasa.
Banyaknya deretan peristiwa genosida di Indonesia dan tanpa penyelesaian yang pasti secara hukum, adalah sebuah "barometer" bahwa pembunuhan massal adalah sebuah kebiasaan yang akan diwariskan terus menerus, hingga menjadi "budaya". Dan dapat disimpulkan bahwa supremasi hukum di republik ini yang menyangkut kematian massal sangat LEMAH.
Itu artinya harganya nyawa manusia tidak lebih berharga dari nyawa binatang.
Salam 1 duka untuk seluruh keluarga korban KANJURUHAN
#bubarkanPSSI #suntikmatiPSSI #PSSIbiadab #sepakbolabarbar #republikbiadab #pepememe*

0 Comments