PENDIDIKAN ADAB MENURUT ISLAM DAN KI HAJAR DEWANTARA

 

Oleh Bayu Tri Wibowo - Presidium Baja Depok


BLACKPOST | Menyambut hari Pendidikan Nasional 02 Mei 2023 yang bertepatan dengan 12 Syawal 1444 atau hari ke 11 selepas umat muslim merayakan Hari raya Idul Fitri, maka rasanya penulis ingin menyampaikan sebuah narasi yang bisa mengaitkan keduanya kedalam sebuah tulisan.


Dalam Islam, sistem pendidikan dimaknai sebagai sebuah sistem pengembangan sikap dan tata laku seseorang yang mencakup seluruh aspek kehidupan dalam rangka mendewasakan seorang hamba melalui upaya-upaya pengajaran ataupun pembiasaan. Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, pendidikan dalam Islam dikenal dengan istilah ta`dib. Ta`dib atau proses meng-adabkan seseorang telah mencakup didalamnya ta`lim dan juga tarbiyah. Tujuan utamanya, tidak lain ialah untuk membentuk manusia yang baik dan beradab.


Secara terminologi, ta`dib berasal dari addaba. Ia adalah verba dengan bentuk aslinya, adab. Sebagaimana disampaikan oleh Imam al-Qusyayri dalam al-risalah al-qusyayriyyah, adab adalah akumulasi dari seua sikap yang baik dalam diri seseorang. Sikap yang baik ini tidak hanya tercermin dalam hal-hal jasmani atau yang tampak saja (al-zhahir), tetapi juga hal-hal rohani atau yang tidak tampak (al-bathin), sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Ghazali. – Kitab Bidayatul Hidayah , Al - Imam Al - Ghazali.


Pembahasan Adab disebut ki Hajar sebagai ‘Ilmu Adab’. Dalam pernyataannya, ki Hajar menyamakan (1) Antara Ilmu adab dan ethic, kemudian memasukan (2) Ilmu adab sebagai bagian dari ilmu filsafat untuk menuju kearah kesempurnaan hidup. Berakar pada makna ‘Ethik’, Ki Hajar memaknainya sebagai (3) sistem dan Metode. Susunannya seperti ini, Adab = ethic berawal dari Socrates (metafisika), kemudian membaginya menjadi dua, (a) kebahagiaan pancaindera dan (b) kebahagiaan mutlak. Antara Idealistis dan materialistis. Cara memahaminya (episteme, pen) dibagi menjadi tiga; ilmu, keagamaan, dan pengalaman/perasaan yang mendasar pada teori Frits Kunkel, Frits van Enden dan Herbart. Menarik, kesimpulannya adalah 1) Manusia dibekali budi dan rasa iman, 2) kekuatan jiwa, dan 3) Tuhan sebagai sumber kebahagiaan.


Bapak Pendidikan modern Indonesia Ki Hajar Dewantara juga mengacu kepada adab ketika membahas pengajaran, ki Hajar menyebut (1) ‘Adab yaitu sifat ketertiban (tata) dalam hidup manusia, lahir dan batin, hingga hidup manusia itu terlihat berbeda dengan hidup dari makhluk-makhluk lainnya.’  Kata ‘terlihat berbeda’ memang akan menjadi perdebatan, seperti; sejauh mana ‘terlihat berbeda’ dalam kacamata panca indera atau metafisika? Namun, mari kita lanjutkan terlebih dahulu. Selanjutnya dikatakan (2) Adab adalah ‘buahnya iradat hidup’. Kemudian, buahnya berbentuk ujud tertib, baik dan indah, yang keluar dari akal budi manusia disebut ‘Buah keadaban’. Thus, kumpulan buah keadaban itu bernama kebudayaan.


Adab juga bisa bermakna negatif, (3) ketika sistem sekolah membuahkan adab yang ‘ditaktur intelek.’ Hal ini disebut sebagai bahaya sistem kenalaran. Seperti materialisme, egoisme, kemunduran budi-pekerti, dan kurang memberi tuntunan hidup. Dalam rangka menolak ‘ditaktur intelek = intelektualisme’ tersebut, muncullah buah adab yang melahirkan ditaktornya sistem sekolah (4.1) dan sistem pengajaran sesat (4.2) yang ditimbulkan karena merespon intelektualisme namun malah menghalangi jiwa merdeka. Sistem pengajaran sesat ini dikatakan seperti semata-mata menghafal dengan paksaan, rasa takut pada hukuman, dan belajar dengan maksud hanya demi mendapatkan nilai bagus di raport saja. Hal ini disebut ki Hajar sebagai (4) bersifat tambahan-alat pendidikan watak.


Pada pengertian lain, ki Hajar menyebutnya sebagai (5) pengajaran-adab. Meski tidak memberikan makna yang jelas mengenai pasangan dua kata tersebut, setidaknya pengertian pengajaran-adab dimaknai sebagai pengajaran jiwa dan raga. Mendidik raga dan mendidik jiwa. Karena jiwa dan raga berkembang, dibuat fase (6) kemajuan kecerdasan jiwa-raga sebagai berikut. Yakni alam windu pertama, sebagai alamnya anak-anak dimana pendidikan diarahkan pada permainan, menyanyi, menggambar, ceritera dan lainnya. Kemudian alam windu kedua alamnya anak-anak muda yang disebut pengajaran dan pembiasaan pada laku adab seperti setia, berani, teguh, sejuk hati, telaten, suka beramal dan lainnya.


Terakhir alam windu ketiga alamnya anak-anak dewasa/akil-balig bersifat pendidikan-watak. Dengan peralatan ilmu, mendapatkan keinsyafan mempraktekan laku-adab; pendidikan rasa. Jadi, windu pertama pengajaran hanya pada aktif-pasif pancaindera, windu kedua pelajaran seni, windu ketiga—meskipun disebut pendidikan rasa—yang dimaksud adalah kehalusan budi yang terdiri dari etika dan estetika.


Dalam pandangan al-Attas, adab adalah metode pendidikan rabbani, mengacu kepada hadits Nabi, “addabani rabbi fa ahsana ta`dibi”. Maka dari itu, pendidikan dalam Islam tidak hanya bernilai duniawi, tetapi juga ukhrawi. Konsep ta`dib ini sekaligus mencerminkan bahwa pendidikan dalam Islam harus mengacu kepada worldview yang tidak sekuleristik.


Dalam keberagamaan, adab berfungsi untuk membentuk seseorang menjadi sebenar-benar hamba yang mengabdi kepada Tuhannya. Hamba yang beradab adalah hamba yang mampu mengenali dan mengetahui posisinya di hadapan Tuhannya. Dalam hubungan sosial, adab berfungsi untuk membentuk seseorang menjadi anggota masyarakat yang baik, ia mengenali siapa yang lebih tua sehingga ia hormati dan mengenali siapa yang lebih muda sehingga ia sayangi. Dalam urusan kenegaraan, adab berfungsi untuk membentuk seseorang menjadi warga negara yang baik. Begitulah relevansi adab dalam segala aspeknya.


Sumber :
Dewantara, Ki Hadjar. 1977. Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian Pertama Pendidikan.
Yogyakarta: Majlis Luhur Persatuan Taman Siswa.

Kitab Bidayatul Hidayah, Al- Imam Al-ghazali, Terjemahan Achmad Sunarto, 2015. 
1992) Islam: The Concept of Religion and the Foundation of Ethics and Morality (Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought and Civilisation (ISTAC)), Syed Muhammad Naquib al-Attas.

Post a Comment

0 Comments