DOKTRIN EKONOMI MARX

 


Oleh: Bayu Tri Wibowo

Ketua Presidium ISTN Black Jacket Depok


BLACKPOST | Karl Marx lahir pada 5 Mei 1818 di kota Trier Prussio, karyanya meliputi  studi dalam bidang filsafat, Sosialisme dan terakhir karya paling fenomenalnya tentang Ekonomi; “Das Capital”  yang merubah teori ekonomi adam smith, sebuah pendekatan baru tentang konsep nilai, surplus value dan pendekatannya dilakukan dari sisi pandang kaum buruh terhadap kaum Bourjois selaku pemilik modal. Pada tahun 1848 bersama Engels, Marx menerbitkan manifesto yang kemudian di adopsi oleh partai komunis soviet. 


Kali ini kita tidak akan bicara pandangan sosialisme demokratis Marx, namun kita akan mengawali dengan doktrin ekonomi Marx yang menjadi dasar bagi Das Capital, dalam prakata yang dia buat untuk mengawali Das Capital Marx mengatakan; tujuan utama dari karya ini adalah untuk meletakan hukum dasar bagi ekonomi Masyarakat modern. Sebuah Upaya penelurusan dalam hubungannya dengan produksi dalam tatanan masyarakat yang ditentukan oleh sejarah, dalam pemahamannya, perkembangannya dan pasang surutnya sebagaimana isi dari doktrin ekonomi Marx. Dalam masyarakat kapitalis produksi sebuah komoditas adalah kekuasaan tertinggi, dan barang siapa yang menguasai produksi maka dialah yang menjadi puncak tertinggi dalam mata rantai ekonomi, oleh karenanya Analisa Marx dimulai dari analisa komoditas. 


Value / Nilai

Komoditas, pertama sekali secara arti adalah sebuah benda atau bentuk yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan manusia; kemudian benda atau bentuk tersebut dapat ditukarkan dengan hal lain. Utilisasi dari benda atau bentuk tersebut membuatnya memiliki Nilai Guna, hal ini kemudian disebut secara sederhana sebagai Value / Nilai, terutama sekali Rasionya, Proporsinya dimana sejumlah benda atau bentuk itu dapat dihargai sesuai dengan proporsi dan rasionya dengan benda atau bentuk berguna lainnya, sebagai contoh dalam masyarakat Aztek dan Messo America sekilo garam dapat di tukar dengan perak dengan jumlahnya tertentu, karena garam memiliki nilai guna alami untuk pengawetan bahan pangan, sehingga garam menjadi komoditas yang sangat di butuhkan untuk masyarakat yang masih berparadigma berburu dan mengumpulkan makanan sedangkan untuk masyarakat pesisir tentu garam melimpah dan tidak memiliki nilai guna yang sama bila dibandingkan dengan masyarakat pengunungan. 


Proses pertukaran barang (Barter) ini terjadi secara terus menerus dan merevolusi bentuk baru hubungan antar manusia yang disebut dengan perdagangan, dalam kegiatan perdagangan tersebut diperlukan pertukaran produk, dan produk ini disebut sebagai komoditas. Untuk memproduksi sebuah komoditas diperlukan tenaga buruh, yang berbagai macam jenisnya. Sehingga dalam rangka membuat sebuah produk maka diperlukan mata rantai hubungan sosial antar manusia sebagai individu yang memproduksi diversifikasi  produk, dan secara abstrak para buruh sebagai agen pembuatnya, bukan secara general namun buruh ahli yang secara ahli menghasilkan produk atau komoditas yang diperdagangkan. 


Kegiatan produksi komoditas ini adalah system relasi sosial dimana pada produsen individu menciptakan produk yang beragam dan proses pertukaran yang secara terus menerus secara pada akhirnya yang menjadi umum pada kegiatan tersebut bukanlah tenaga yang menghasilkannya namun berapa jam kerja yang diperlukan untuk menghasilkan sebuah produk, pendekatan penilaiannya tidak semata-mata berdasarkan jam kerja produksi, namun tidak berarti produktifitas berbanding lurus dengan jam kerja, tapi seberapa besar nilai dari sebuah komoditas tidak bergantung dari seberapa banyak waktu yang diperlukan untuk menghasilkannya namun seberapa bernilai komoditas tersebut di mata masyarakat pengguna, semisal untuk menghasilkan satu kilogram garam membutuhkan jumlah keringat yang sama sebagaimana menghasilkan satu kilogram lemak hewani (pada jaman Victoria atau awal abad dua puluh, lemak hewan yang biasa di hasilkan dari Ikan Paus atau mamalia besar lainnya sering digunakan sebagai bahan bakar), namun nilai garam di daerah pegunungan tentunya akan berbeda dengan nilai satu kilogram lemak hewani, karena untuk menghadirkan garam di pegunungan harus melalui proses logistic yang kompleks sementara lemak hewani dengan mudah di dapat dari peternakan setempat. 


Kita sering kali menilai suatu komoditas berdasarkan jumlah waktu yang diperlukan untuk menghasilkannya, yang pada kenyataannya tidak demikian, Marx mengatakan didalam bukunya Capital Terbitan Moscow 1959 hal. 74 “Whenever, by an exchange, we equate as values our different products, by that very fact act, we also equate, as human labour, the different kind of labour expanded upon them, we are not aware of these neverthen less we do it”. Marx membantah teori adam smith yang menyatakan bahwa nilai suatu barang ditentukan berdasarkan hubungan antara dua orang; Marx menambahkan ada nilai lainnya yang tersembunyi di balik kemasan barang tersebut. Kita hanya baru bisa memahami nilainya, ketika kita mempertimbangkan hal lain yaitu system sosial dimana barang tersebut di perdagangkan, terlebih lagi pada saat komoditas tersebut di perdagangkan secara terus menerus sehingga memiliki suatu nilai standard dimana supply dan demand dipermainkan oleh para pedangan bukan oleh para buruh yang membuatnya. 


Marx menyatakan dalam buku yang sama Capital terbitan Moscow 1959 hal. 36 – 38 “ As Values, all commodities are only definite masses of congealed labour time”. Setelah menerangkan secara detail dan melakukan analisa mendalam Marx kemudian melakukan studi tentang analisa hubungan antara uang dan nilai itu sendiri, uang membentuk nilai melakukan penelusuran sejarah barter yang juga pernah menggunakan emas, perak dan logam mulia lainnya sebagai alat nilai tukar resmi yang secara bisa diterima secara universal. 


Surplus Value / Nilai Tambah

Pada tahapan tertentu dari perkembangan produksi komoditas, uang telah berubah menjadi modal. Formulasi yang tepat untuk menggambarkan hal tersebut adalah M-C-M (Money – Commodities – Money) hal ini berlaku pada barang yang sudah beredar dan di perdagangkan namun hal yang sebaliknya terjadi apabila hanya ada satu komoditas yang di perdagangkan formulasinya menjadi C-M-C (Commodities – Money – Commodities), pembelian modal  dilakukan dalam rangka mendapatkan keutungan atau selisih keuntungan. 


Uang yang beredar dalam rangka belanja modal ini secara tidak langsung menaikan nilai uang itu sendiri hal ini dinamakan oleh Marx sebagai Surplus Value atau Nilai Tambah, menurut Marx ada dua cara untuk meningkatkan Surplus Value, memperpanjang jam kerja produksi dan mengurangi hari kerja produksi. Lanjut analisa dari pengurangan hari kerja dan pengaruhnya terhadap Surplus Value ada tiga fundamental dasar yang dapat meningkatkan produktivitas pekerja: (1) Koperasi yang sederhana, (2) Pemisahan keahlian tenaga kerja, (3) Permesinan dan Industrialisasi dalam skala besar. Untuk point ke tiga Marx secara spesifik pada tahun 1867 merujuk kepada negara kekuatan industri baru (Rusia, Jepang, dll), pada saat itu Jepang sudah memiliki swasembada sandang bahkan Jepang menjadi eksportir sandang / bahan pakaian ke negeri eropa, Russia pada masa itu menunjukkan skala besar industri gandum yang di bawa dari Russia pedalaman dengan kereta uap untuk memenuhi kebutuhan negara eropa timur dan barat. 


Menurut Adam Smith Surplus Value bertranformasi langsung menjadi modal dan diversifikasi modal secara turunan, sementara menurut Analisa Marx, hal itu di bagi kedalam cara produksi dan variable modal. Dan produk sampingan dari revolusi Industri jaman Victoria ini adalah over production dan untuk pertama kalinya produk over produksi ini di ekspor untuk memenuhi pasar lain sehingga ini menjadi tonggak awal perdagangan global, gandum ditukar dengan woll dan bahan pakaian dari Jepang kepada Russia dan Russia mengirimkan Gandum kepada Jepang, pada saat ini juga bangsa jepang mulai mengenal sumber karbohidrat baru selain Beras. 


Dari dua fundamental dasar diatas kita dapat mengambil Kesimpulan, Studi Marx diawal dalam rangka analisa terhadap hubungan antara buruh dengan modal, dan pengaruhnya terhadap batu tapal dalam perdagangan komoditas global. Mempelajari studi Marx tidak semata -mata mempelajari Ideologi komunis materialist, meskipun pada karyanya yang lain Bersama dengan Engles diadopsi menjadi Manifesto Partai Komunis Sovyet, studi awal Marx mengenai doktrin ekonomi ini memulai sebuah pertentangan baru terhadap teori Adam Smith dan sebagai pembuka dalam memahami proses perdagangan global. (red/Op/BP) 


Sumber

- Lenin , “Marx Engels Marxism : Sellected works”, Progress Publishers, 1965.      

- Karl Marx, " Capital,"  vol. 1 Moscow , no. 7, pp. 36-167, 1959.        

- F. Engels, "Anti Duhring," , Moscow , pp. 40,  1954.      

Post a Comment

0 Comments