Oleh Bayu Tri Wibowo
Ketua Presidium ISTN Black Jacket Depok
Salam Mesin.
BLACKPOST | Hari ini rabu 10 september 2025, saya melihat belasan mata Mahasiswa baru, serba gagap dan bingung, apa relevasinya memilih jurusan Teknik mesin sementara rekan rekan seangkatannya hampir 60% adalah mahasiswa jurusan teknologi informasi, apakah mereka salah memilih jurusan ?
Kalau kita Tarik kebelakang lebih tepatnya setelah masa revolusi industri pada abad ke 18 Mesin uap modern oleh James Watt pada akhir abad ke-18 menjadi fondasi revolusi industri pertama, menggantikan tenaga manusia dan hewan untuk menggerakkan mesin, lalu banyak insiyur Teknik yang mencoba melatenkan mesin uap tersebut untuk menggerakan kapal, Lokomotif, Mesin pompa dan menjadi primemovers untuk memanfaatkan energi kinetiknya untuk menggerakan pembangkit Listrik yang murah untuk kepentingan industri.
Perkembangan ini membuat jaman renaissance modern yang menjadi batu loncatan pertama bagi umat manusia, periode ini dimulai pada 1784 ketika Eli Whitney (1765 – 1825), memperkenalkan sparepart yang bisa di gunakan secara universal untuk pemintalan benang, hal ini sangat signifikan mengingat tanpa terobosan tersebut mustahil bagi james watt untuk dapat membuat mesin uap secara utuh, kontribusi Eli Whitney ini memungkinkan bagi pekerja biasa (buruh pabrik) untuk merakit mesin dengan skala masal sehingga membuat industri permesinan dapat menjadi effisien dan mempersingkat waktu untuk pengembangan dan perakitan, hanya baru pada pertengahan abad ke 19 standarisasi untuk ukuran dan dimensi material yang kita kenal sekarang sebagai ISO, ASME, dan ASTM, yang menjadi standard baku bagi dunia industri yang menjamin kualitas dan kesetaraan terhadap seluruh produk permesinan yang beredar.
Perang dunia pertama (1914 – 1918) juga membawa andil besar dalam mempercepat proses insdustrialisasi umat manusia, pengembangan mesin Internal combustion menjadi hal penting dalam perang karena mesin internal combustion (motor bakar) yang berbentuk kompak mampu menggerakan satuan satuan mekanis dibandingkan dengan kakaknya mesin uap, pengembangan mesin internal combustion ini membawa manusia pada batu loncatan kedua peradaban.
Abad 20, setelah mekanisasi dunia berhasil di langsungkan kurang dari 100 tahun dimana sebelumnya manusia masih menggunakan kereta berkuda lalu beralih menjadi mesin motor bakar, lalu effisiensi motor bakar dimaksimalkan lagi menjadi mesin Jet dan turbin Jet, manusia melalui seorang fisikawan Irving Langmuir pada tahun 1928 untuk menggambarkan gas terionisasi ini, sebagai Plasma, dunia mengenal bentuk zat ke 4 setelah padat, cair dan Gas.
Pengembangan teknologi Zat ke 4 ini memberikan kita tenaga Fusi atom, Roket Hidrogen, yang pada puncaknya mengantarkan manusia untuk pergi ke bulan pada 1969. Dimana secara prinsipnya Roket Space X nya Elon Musk, juga masih menggunakan penggerak yang sama yang diharapkan nanti pada 2030 akan mengantarkan manusia ke Mars. Hal ini disebut sebagai batu loncatan ketiga, dimana batu loncatan berikutnya – Quantum Mekanik – lahir sebagai produk sampingan dari percobaan manusia, dimana Einstein dan Plank menyadari bahwa ada anomaly yang terjadi yang tidak dapat dijelaskan oleh Hukum Fisika Newton konvensional, maka lahirlah abad ke 21, dan dari hasil percobaan serta pendekatan penyelesaian masalah yang dilakukan pada zaman ini memungkinkan kita mampu membuat pergerakan dari A ke B menjadi lebih effisien, adanya konsep reservasi energi, dan perubahan energi dari bentuk satu ke lainnya juga di mungkinkan oleh penjelasan model matematika yang dilahirkan oleh uji coba mekanis terhadap teori yang dikembangkan oleh para fisikawan. Maka lahirlah 4.0 Industri.
Lalu dimana letak peran dari Teknik Mesin dalam semua itu, saya tidak berbicara Industri 4.0 sebagai sebuah proses managerial, (1) big data, (2) advanced analytics, (3) human-machine interfaces, and (4) digital-to-physical transfer -, melalui tulisan ini saya tidak berbicara pada tataran konsep efficiency tentang industrialisasi, tapi saya berbicara tentang bahwa walaupun Ilmuan yang mengembangkan teorinya tapi pada akhirnya model matematikanya akan diterjemahkan oleh para sarjana Teknik Mesin dan output dari penyelesaian masalah nyata itulah yang dijadikan teknologi terapan untuk memudahkan hidup manusia. Konversi energi, Konstruksi, Ilmu material, dan lain sebagainya dikhususkan bagi Teknik Mesin agar bisa menjawab tantangan kebutuhan manusia. (Red/opn/BP)
Sumber :
- F. SperoƩ o, In the footsteps of Homo Industrialis: A chronology of industry and industrial engineering, Picsie Press, 1994.
- W. Rennen and P. Martens, "The globalisaƟ on Ɵmeline," Integrated Assessment, vol. 3, no. 4, pp. 137-144, 2003.
- R. Woodbury, "The legend of Eli Whitney and interchangeable parts," Technology and Culture, vol. 1, no. 3, pp. 235-253, 1960.

0 Comments