Oleh: Mohamad Fuad
BLACKPOST | Sebelum lahirnya TNI, banyak laskar rakyat yang berjuang dan menorehkan jasa besar bagi Indonesia.
Kontribusi Laskar Sebelum TNI Lahir
Sebelum nama Tentara Nasional Indonesia resmi lahir pada 5 Oktober 1945, bangsa ini tidak pernah sepi dari perjuangan. Kemerdekaan yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 hanya bisa bertahan karena di belakangnya berdiri ribuan rakyat biasa yang menjelma menjadi laskar.
Mereka adalah para santri dari pesantren, pemuda-pemuda dari kampung, buruh, petani, pedagang, hingga bekas Heiho dan PETA yang menolak tunduk pada Jepang. Dengan senjata seadanya bambu runcing, senjata rampasan, atau bahkan hanya semangat mereka mengangkat sumpah untuk mempertahankan republik yang masih bayi.
Di Jawa, lahir laskar Hizbullah, Sabilillah, Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI), Laskar Hizbullah–Sabilillah di Surabaya yang menjadi ujung tombak perlawanan 10 November.
Di Sumatra, muncul Laskar Rakyat Medan Area, yang menjaga kota dari masuknya pasukan Sekutu dan NICA.
Di Sulawesi, Kalimantan, hingga Maluku, laskar-laskar rakyat terbentuk secara spontan bernama macam-macam, tapi memiliki satu cita: “Merdeka atau mati.”
Laskar-laskar inilah yang pertama kali menghadang pasukan asing yang datang dengan kapal-kapalnya, bahkan sebelum tentara resmi tersusun rapi. Mereka berperan bukan hanya sebagai barisan tempur, tapi juga penyambung logistik, penghubung informasi, pelindung kampung, dan benteng moral rakyat.
Dari darah dan pengorbanan merekalah, embrio pertahanan rakyat terbentuk. Baru kemudian, atas kebutuhan persatuan dan efektivitas, laskar-laskar itu bersama badan-badan perjuangan seperti BKR (Badan Keamanan Rakyat) disatukan menjadi TKR, lalu TRI, hingga akhirnya menjadi TNI.
Pesan untuk anggota TNI dan Luhut Binsar Panjaitan
Mengingat jasa laskar rakyat adalah mengingat bahwa TNI lahir dari rahim rakyat. Tanpa semangat rakyat yang bersatu dalam laskar-laskar itu, TNI tidak pernah punya fondasi kuat. Maka, setiap prajurit hari ini sesungguhnya mewarisi darah, keringat, dan semangat mereka yang dahulu berjuang tanpa seragam resmi, tanpa gaji, tanpa perlengkapan modern bahkan tanpa konsesi proyek tambang dan kekuasaan hanya berbekal keyakinan bahwa kemerdekaan harus dipertahankan.
Karena itu, menjaga hubungan erat dengan rakyat bukan sekadar slogan: ia adalah jati diri TNI yang lahir dari rakyat, berjuang bersama rakyat, dan kembali ke rakyat. Anggota TNI dan Luhut Binsar Panjahitan tidak boleh kejam dan galak terhadap rakyat.
Tidak boleh ada pejabat khususnya dari unsur TNI kejam, arogan dan sadis terhadap rakyat nya sendiri seperti Luhut Binsar Panjahitan. Manakala ada ktitik dari rakyat seakan mau nerkam bahkan mengusirnya. (red/Opn/BP)
.

0 Comments