BLACKPOST | Redaksi | Pada saat ini ada tokoh intelektual yang dihormati sebagai pakar pertanian berbicara tanpa melihat fakta dan data. Meski banyak mata sudah melihat fakta, banyak tangan sudah memegang barangnya nyata, mulut sudah mencicipi penuh rasa, tapi Kukuh tak berubah pandangan karya petani yang penuh jerih payah untuk menghasilkan kedelai lokal seperti tak berharga. Mungkin masih mati hatinya karena hidayah belum didapatkannya.
Propaganda intelektual lantang bicara iklim tropis Indonesia tidak cocok untuk kedelai karena menganggap kedelai adalah tanaman sub tropis, tetapi kita impor kedelai dari Brazil yang juga negara Tropis, masih nggak nyadar?, ...terus lantang menyuarakan propaganda Kedelai Lokal tidak cocok untuk tempe dengan alasan ukuran bijinya kecil dll. Beda dengan tempe dari kedelai import sub Tropis, padahal tempe sudah diproduksi bangsa indonesia dari kedelai lokal sudah ada di sejak zaman majapahit... dan kedelai lokal pun sudah ada banyak yang justru ukurannya lebih besar dari kedelai Import.
Justru kedelai Impor hasil transgenik GMO (Genetik Modified Organisme) yang seharusnya di peruntukannya untuk PAKAN ternak/hewan yang kita jadikan tempe, Sedangkan kedelai LOKAL yang pasti non GMO, organik dan sehat yang "Human Consumtion" layak untuk makanan kita.
Jangan hanya karena pegang kuasa, uang dan corong bebas menyesatkan kebenaran dengan "mlintir" fakta dan informasi karena dampaknya sudah banyak petani kedelai menderita dan mati suri selama 30 tahun. Terus memaksakan berargumen sesat produktivitas kedelai lokal rendah hanya kisaran 1 -2 ton/ha tidak layak dikembangkan tanpa melihat fakta kita sudah ada inovasi teknologi kedelai yang mampu hasilnya 3,5 ton/ha sampai 5,2 ton/ha lebih tinggi dari rata2 produksi kedelai di Amerika yang 2,7 ton/ha.
Sungguh hati dan akal budi tak bekerja lagi untuk bicara kebenaran dan jujur mengakui kenyataan. Barangkali jika memang ingin kedelai untuk rakyat wajib dari IMPORT ya tidak usah membuat banyak alasan yang justru membuat jadi argumen yang lucu dan kebenaran akal dan mata yang melihat "Tergadaikan" atau "terlacurkan".
Jika manfaat telah tiada dan Mudharot dengan mendzalimi kebenaran dan nasib banyak petani kedelai sudah sampai puncaknya, hanya Tuhan saja yang akan mengadilinya.
Penulis Ali Zum


0 Comments