BLACKPOST: SUARA DEMOKRASI INDONESIA


Foto Majalah Black Post, 
No 1/Tahun ke 3/1993

Sejarah BLACKPOST diilhami dari adanya gejolak kemahasiswaan di kampus ISTN yang mendorong terjadinya Musyawarah Mahasiswa. 
26 MEI 1990


Majalah Black Post tak kalah kritis, berita berjudul ‘Subuh Berdarah di ISTN’ sengaja dipilih sebagai wujud protes terhadap kesewenang-wenangan militer.


Mogok kuliah, unjuk rasa, menduduki gedung rektorat dan menyandera dosen. Aksi langka dilakukan mahasiswa Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN). Srengseng, Jakarta Selatan. Menuntut praktek komersialisasi pendidikan digusur ke luar kampus. 


Mahasiswa ISTN lakukan demo ke dpr protes atas serbuan aparat keamanan kedalam kampus, yang menyebabkan mahasiswa cedera. Dan akhirnya memunculkan solidaritas terhadap peristiwa ini. 


Era tahun 90an isu-isu korupsi di tubuh pemerintah memang menjadi isu yang sering diangkat pers mahasiswa. 


Seperti yang dilakukan Black Post, majalah berita yang disajikan bertemakan korupsi di tubuh pemerintah. 


*


RESISTENSI PERS MAHASISWA ISTN

Sejarah Black Post sesungguhnya diawali dan diwarnai oleh sejarah pergerakan mahasiswa di ISTN diakhir era 80-an. Black Post hadir bukan sekedar instrumen pelengkap seperti layaknya kegiatan pers mahasiswa yang lain dan kegiatan mahasiswa pada umumnya.


Diawali dengan keprihatinan keadaan kampus yang kacau, beberapa aktivis kampus ISTN menerbitkan sebuah majalah kampus yang bernama Black Post pada saat reuni alumni ISTN di Bhumi Srengseng Indah 26 Mei 1990. "Peluncuran" unik ini ditandai oleh adanya aksi protes dan dialog dengan pihak alumni mengenai kondisi ISTN pada saat itu.


Dengan modal swadaya dan keahlian yang seadanya serta "saweran" para simpatisan, Black Post saat ini akhirnya mencatatkan diri sebagai salah satu aset perubahan di ISTN. Walau pada saat itu konsekuensinya adalah tekanan dari pihak birokrasi kampus terhadap Black Post yang datang bertubi-tubi dan sangat kuat, salah satunya adanya tekanan atau ancaman sanksi akademi dan pembreidelan.


Mau tidak mau, kita semua mengakui apa yang disuarakan oleh Black Post adalah sebagai objek kekusutan di ISTN selama ini. Pihak birokrasi kampus manapun, mahasiswa umumnya lama-lama harus mengakui eksistensi Black Post dan legitimasi politik ini berlanjut sampai dengan adanya legitimasi hukum Black Post ; diakui Black Post sebagai salah satu lembaga semi otonom di ISTN dalam AD/ART KM ISTN dan disyahkannya Black Post oleh Senat Mahasiswa ISTN pada saat kepemimpinan sdr.Fachruddin F. 


Namun "keberhasilan" ini tidak menyurutkan langkah Black Post dalam garis pergerakan mahasiswa. Black Post masih tampil membentuk Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Jakarta (FKPMJ) pada tahun 1993 yang merupakan suatu Forum bagi aktivitas Pers yang peduli terhadap persoalan Demokrasi. Sebelumnya Black Post ikut serta dalam Asian Student Association Media Workshop pada tahun 1992. 


Black Post tidak hanya aktif dalam peliputan berita, tetapi ikut serta dalam advokasi kasus-kasus tanah dan menghidangkannya pada para pembaca. Setelah dibreidelnya Momentum pada saat Malari 1974 dan runtuhnya Mahasiswa Bicara pada akhir 1980, pasca NKK/BKK, tidak ada lagi Pers Mahasiswa yang Progresif di ISTN.


Komitmen ini nampaknya sering diterjemahkan secara keliru, Black Post dianggap hanya sekelompok barisan sakit hati atau kelompok ekstrimis. Banyak pihak yang ingin merubah komitmen ini dengan cara salah satunya mengikis citra garang dalam sebutan Black Post sebagai nama lembaga tersebut. Pertanyaan Shakespearesanta relevan disini, apa arti sebuah nama?
 

Ini semua hanya sebuah tuduhan yang ilusif karena Black Post sendiri terus memberikan konstribusi yang terbaik bagi Korps Mahasiswa ISTN. Terbukti beberapa kader Black Post dipilih sebagai pemimpin lembaga
kemahasiswaan, karena harus diakui sejak awalnya Black Post dilahirkan tidak hanya oleh pengurus Black Post tetapi juga didukung oleh para Mahasiswa ISTN saat itu, yang bersama-sama membangun komitmen untuk memberikan sumbangsih yang terbaik bagi ISTN.


Oleh karena itu kemunculan Black Post harus terus berada dalam semangat tradisi yang progresif tersebut. Walaupun berbagai kendala terus menghadang, tapi terus berjalan secara progresif dalam garis perjuangan demokrasi, menjadi corong Mahasiswa dan Rakyat Indonesia dan tampil menjadi pelaku sejarah. Saat ini Black Post bersama kawan-kawan masih tergabung dalam Forum Pers Mahasiswa Jakarta (FPMJ) yang terdiri lebih dari 10 Lembaga Pers Mahasiswa di Jakarta dan sekitarnya.

Sumber LPM ISTN Black Post





Post a Comment

0 Comments