Tolong Presiden RI dan Gubernur NTB Bijak Sikapi Persoalan, Kami Mau Bawa Pulang Sapi Ke Bima




BLACKPOST | Depok | Asosiasi Pedagang dan peternak Sapi Bima Indonesia melakukan konferensi pers terkait Sapi dari Bima yang masih tersisa banyak karena tidak terserap oleh pasar. Konpers dilakukan di Jembatan GDC Jalan boulevard, Pancoran Mas, Kota Depok, sabtu, 1 Juli 2023.


Kordinator Asosiasi Pedagang dan Peternak Sapi Bima Indonesia, Furkan Sangiang menyampaikan masalah yang di hadapi petani sapi Bima. Hal ini  berkaitan dengan solusi terhadap ribuan sapi yang tidak terjual saat Idul Adha 1444 Hijriah.



"Satu problem yang kami hadapi  terutama teman - teman petani sapi Bima, yang saat ini dalam keadaan cukup dilema. Sebagian teman - teman sudah berkumpul. Kami intinya menghadapi satu persoalan bahwa  ada sisa sapi kami yang ada sejumlah lima sampai tujuh ribu yang tidak terserap oleh pasar." Ujar furkan.


"Pertama kami sadar kuota dari Bima mengalami overload sekitar 26 ribu dalam tahun ini. Sehingga efeknya adalah penjualan sapi kami di jabodetabek masih tersisa 7000 an lebih. Dan tersebar di kandang jabodetabek." Ucapnya.


Kemudian persoalan Sapi import membuat sapi Bima kalah bersaing sehingga membuat  jumlah sisanya meningkat. "ada banyak sapi import yang masuk, menjadi salah satu memukul sapi kami. Pertanyaannya, yang kami hadapi saat ini bagaimana kami bisa membawa pulang sapi kami ke Bima?"


Selanjutnya, di satu sisi terhambat oleh salah satu bukan kebijakan, salah satunya adalah Gubernur NTB memberikan ultimatum lewat media sosial bahwa bukan solusi kalau sisa sapi Bima kembali di bawa ke NTB, karena alasannya membawa penyakit.


   Foto: Sapi Bima

Dengan adanya edaran dan pelarangan hewan masuk dari luar Bima menyebabkan  petani sapi menjadi tidak jelas, karena sewa tempat sudah habis, mobil yang biasa digunakan sudah diambil oleh pemilik begitu juga kontrak lahan yang sudah habis.


"Klu memang seperti itu kami sangat menghargai, tapi siapa yang menampung sapi kami disini. Disatu sisi kandang yang kami sewa sudah habis masanya. Bahkan ada sebagian orang meminta penambahan biaya, kemudian ada yang mengusir agar kami  tidak lagi disitu." Papar furkan kepada media.


"Bahkan mobil - mobil sebagian dari teman - teman ditarik oleh pemilik mobil sewa. Kami mau ambil untung tetapi masih punya sisa sapi. Kita disuruh bertahan disini, dengan maksud  ada yang mau membeli sapi kita. Tapi sampai kapan? Kami menghargai upaya gubernur,  jadi tolong kami dipikirkan. Tolong kami petani se Jabodetabek," bebernya.


"Kami berharap Presiden Republik Indonesia, gubernur dan kementrian untuk bisa bijak menyikapi persoalan yang kami hadapi. Tolong kami dibantu, jangan persoalan ini sampai berlarut- larut. Kami akan taat pada aturan dan kebijakan,  tapi berikan kami satu poin yang melegakan seluruh petani."Tutupnya (LHPS/BP) 


 

Post a Comment

0 Comments