Oleh: Bayu Tri Wibowo
Ketua Presidium ISTN Black Jacket Depok
BLACKPOST | Semua orang mengakui betapa baiknya jika penguasa bisa memegang janji, dan hidup dengan integritas, tidak penuh tipu daya. Namun demikian, pengalaman kita menunjukan bahwa para penguasa yang berhasil melakukan hal-hal besar jarang yang menghargai pentingnya memegang janji, dan dikenal sebagai orang yang lihai memanipulasi orang lain, dan pada akhirnya memanfaatkan orang yang mempercayai perkataannya untuk kepentingan mereka sendiri. Perlu diketahui bahwasannya terdapat dua macam kontestasi untuk memenangkan kekuasaan.
Pertama, melalui hukum (Pemilu, Penunjukan oleh raja, pengangkatan oleh dewan. dll), yang sesuai untuk dilakukan manusia. Kedua, melalui kekerasan yang biasa dilakukan oleh hewan. Tetapi karena cara pertama seringkali tidak cukup membuat seseorang memenangkan kontestasi kekuasaan, maka manusia juga memerlukan cara yang kedua. Oleh karenanya, seseorang penguasa perlu memahami cara menggunakan keduanya. Hal ini telah secara tidak langsung diajarkan kepada penguasa oleh para penulis kuno, yang menjelaskan bagaimana Achilles dan banyak penguasa lain pada Zaman kuno, telah dikirim dan dibesarkan oleh Chiron, Chiron adalah manusia setengah binatang, agar Chiron bisa mendidik mereka dengan pengajarannya. Kisah ini menunjukan memilih guru seorang manusia setengah binatang, artinya penguasa harus tau cara menggunakan kedua metode untuk memenangkan kontestasi tersebut, dan bahwa tanpa keduanya kekuasaan yang diperoleh tak bisa berlangsung lama.
Dengan demikian karena seorang penguasa harus bisa meniru cara – cara hewan, maka dia seharusnya mengikuti cara rubah dan cara singa untuk dikuti. Singa tidak pandai menyelamatkan diri dari perangkap, dan rubah tidak mampu membela diri melawan serigala. Mereka yang hanya mengandalkan diri meniru cara singa, tidak akan memahami seperti apa perangkap bekerja. Karenanya seorang penguasa yang bijaksana tidak harus dan juga tidak boleh menepati janjinya, jika janjinya bisa digunakan berbalik untuk melawannya, atau ketika alasan yang menyebabkan janji itu dulu dibuat sudah tidak ada lagi atau sudah tidak tepat secara kontektual.
Jika semua manusia adalah orang baik maka nasihat ini bukan merupakan suatu nasihat yang baik dan tidak perlu diikuti. Tetapi karena kebanyakan manusia bukan merupakan orang baik, dan kebanyakan mereka tidak bisa menepati janji, maka kita tidak perlu menepati janji pada orang yang demikian. Seorang penguasa tidak akan pernah kekurangan alasan untuk tidak menepati janjinya. Ada begitu banyak contoh mengenai hal ini di masa modern, yang menunjukan betapa banyak perjanjian dan kesepakatan yang telah dibuat kemudian dianggap batal dan tidak memiliki kekuatan apapun, dikarenakan sikap para penguasa yang tidak mau menepati janji. Dan para penguasa yang paling sukses adalah mereka yang paling baik meniru sikap rubah.
Tetapi seorang penguasa juga harus mengetahui cara menyamarkan karakter ini dengan baik, dan bagaimana caranya berpura-pura dan menyembunyikan motif yang sebenarnya. Dan karena manusia begitu naif, dan juga diperbudak oleh keinginannya untuk memenuhi kebutuhan- kebutuhannya, maka ia yang bermaksud memperdaya orang lain akan selalu menemukan orang yang membiarkan dirinya diperdaya. Ada salah satu contoh yang tidak bisa kita abaikan begitu saja.
Alexander IV adalah orang yang selalu menggunakan taktik memperdaya orang dalam semua tindakannya, dan ia selalu berhasil menemukan orang yang bisa ia perdaya, dan tidak pernah berfikir untuk melakukan cara lain. Dan ia selalu berhasil menemukan orang yang bisa ia perdaya, karena tidak pernah ada orang selain dirinya, yang sangat pandai dalam meyakinkan orang, atau yang selalu memperkuat kata-katanya dengan sumpah, tapi sedikit sekali kata-katanya yang ia tepati. Namun demikian, perbuatan tidak jujurnya selalu menuai keberhasilan sesuai yang ia harapkan, karena dia memahami dengan baik salah satu aspek yang ada pada diri manusia ini.
Oleh karenanya, seorang penguasa tidak perlu memiliki semua sifat baik, seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, tetapi ia perlu terlihat memiliki sifat-sifat baik itu. Maafkan saya jika harus mengatakan hal ini juga, bahwa memiliki semua sifat baik itu, dan selalu menjalankan sifat baik itu akan berbahaya; sedangkan, tampak memiliki sifat-sifat baik itu akan bermanfaat. Artinya, kita perlu dikenal sebagai orang yang murah hati, selalu menepati janji, penuh belas asih, religious, jujur, dan sekaligus benar-benar menjalankannya; tetapi secara mental kita juga harus selalu siap, jika suatu saat kita perlu meninggalkan sifat-sifat baik itu, kita harus mampu dan tahu cara melakukan hal yang sebaliknya.
Harus dipahami bahwa seorang penguasa, terutama penguasa baru, tidak dapat selalu menjalankan semua sikap yang bisa membuatnya dianggap mulia; karena untuk mempertahankan kekuasaannya, ia seringkali terpaksa harus melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kesetian, persahabatan, belas kasih dan agama. Oleh karenanya, seorang penguasa perlu siap secara mental untuk merubah sikap sesuai dengan kearah mana angin keberuntungan dan berbagai kondisi lain bergerak sebagai kondisi lain dan memberinya jalan. Namun demikian, seperti yang saya katakana sebelumnya, seorang penguasa tidak seharusnya menyimpang dari jalan kebaikan, selagi ia bisa menghindarinya; tetapi ketika benar-benar diperlukan, maka ia harus tau bagaimana cara melakukan hal yang sebaliknya.
Karena alasan ini maka seorang penguasa harus berhati-hati agar tidak mengatakan kata-kata apapun kecuali mencerminkan kelima sifat baik diatas, sehingga ia akan tampak bagi siapapun yang melihat dan mendengarkannya sebagai seorang yang murah hati, selalu memegang janji, penuh belas kasih, jujur dan religious. Dan diantara kelimanya, yang paling penting adalah yang terakhir. Karena manusia pada umumnya menilai sesuatu dari apa yang terlihat, daripada apa yang dialami. Karena semua orang bisa melihat apa yang kita lakukan, tetapi tidak setiap orang bisa berinteraksi secara langsung dengan kita. Semua bisa melihat apa yang tampak pada diri kita, tetapi tidak banyak orang yang benar-benar tahu seperti apa diri kita. Dan mereka yang sedikit itu tidak akan berani menentang opini mayoritas orang, yang didukung oleh kekuatan negara. Tindakan setiap orang, dan terutama tindakan penguasa, yang tidak mungkin bisa ditentang, akan dinilai dari hasilnya.
Karena alasan itu, biarlah seseorang penguasa mendapat penghargaan atas jasanya menaklukkan dan mempertahankan negara. Tindakan apapun yang dilakukannya untuk itu akan selalu dianggap terhormat, dan ia akan mendapat pujian dari semua orang. Karena orang biasa kebanyakan akan selalu terkesan pada apa yang tampak dan apa yang dihasilkan oleh sesuatu; sementara dunia ini sendiri hanya berisi orang-orang biasa kebanyakan, golongan lainnya yang sangat sedikit hanya bisa mendapat tempat di dunia ini jika golongan banyak tidak memiliki sesuatu sebagai pinjakan.
Salah seorang penguasa negeri kita pada masa yang baru saja berlalu, yang tidak baik kita saya sebut namanya, tidak pernah mengajarkan sesuatu selain kejujuran dan kesetiaan. Tetapi ia sendiri tidak pernah sama sekali menjalankannya. Kita semua tahu bahwa kita memilih pemimpin memang berdasarkan pencitraan dan public image yang sebenarnya adalah strategi kampanye.
Dari jaman amangkurat sampai jaman Prabowo, tidak pernah ada sekalipun suatu upaya yang serius untuk menuntut janji masing-masing penguasa yang telah lewat, hanya ada satu penguasa yang pernah benar-benar diadili secara hukum positif (walaupun secara in absensia) tentang janjinya dan perilaku terselubungnya selama dia berkuasa, dia adalah presiden ke 2 kita. (red/opn/BP)

0 Comments