HOMODEUS SEBUAH PENGANTAR

Oleh : Bayu Tri Wibowo
Ketua PRESIDIUM ISTN BLACK JACKET DEPOK 


BLACKPOST | Selama ribuan tahun Jawaban pertanyaan tetap tidak berubah, tiga pertanyaan yang menghantui pikiran orang cina abad 20, orang india abad pertengahan dan orang Mesir Kuno, adalah Kelaparan, wabah dan perang. 

Dalam konteks sekarang persoalan yang berkaitan dengan penyakit, kemiskinan, kelaparan dan Perang selalu ada didalam lingkungan kita. Generasi demi generasi manusia telah berdoa pada tuhan, dewa dan santa, tapi tetap jutaan manusia mati dalam epidemi. Perang dan Kelaparan tetap terjadi meskipun saat ini tiga hal tersebut diatas dapat diatasi, namun tidak menutup kemungkinan tidak terjadi. 

Kelaparan, sebuah garis kemelaratan biologis, satu kesalahan kecil dapat merubah nasib sebuah keluarga dan secara kolektif dapat mempengaruhi sebuah Masyarakat menjadi kelaparan. Hal ini sempat terjadi, pada April 1664 seorang pejabat prancis menggambarkan akibat gagal panen. Cuaca buruk mengakibatkan gagal panen berlangsung sampai 1694. Sekitar 2,8 juta orang prancis yakni 15% dari populasi prancis mati karena kelaparan. Hal yang serupa 1693 terjadi di Estonia, 1695 – 1698  di scotlandia yang melenyapkan lebih dari 50% dari populasi. 

Apa yang bisa kita lihat dari kejadian di eropa pada abad pertengahan ini, bahwa bencana kelaparan masih terjadi di dunia, Benua Africa, bahkan di Indonesia, meskipun sudah ada pemerintah yang sah dan legitimate untuk menanggulanginya tapi bencana kelaparan tetap menghantui. Kita sekarang tentu lebih baik karena ada badan pangan dunia dan ada kerjasama bilateral dan multilateral sehingga bencana kelaparan bisa ditanggulangi tapi tetap hal ini tetap terjadi. Pemerintah kita dengan program MBG nya mencoba untuk menjawab pertanyaan pertama, Kelaparan. 

Namun pemerintah kita lupa bahwa akar dari kelaparan dan kekurangan gizi adalah kemiskinan yang harusnya bisa ditanggulangi dengan meningkatkan ketahanan pangan yang berbasiskan pada budaya Lokal, dan menurunkan harga - harga yang pada akhirnya bisa meningkatkan daya beli masyrakat, pemerintah memang tidak bisa menjawab semua pertanyaan tetapi setidaknya belajar dari kesalahan ORBA dimana pemaksaan budaya makan Nasi sehingga standard kecukupan pangan hanya berdasarkan pada perhitungan kalori dari satu sumber karbohidrat. 

Di Yahukimo Papua pada 27 October 2023, setidaknya ada puluhan warga yang meninggal di Lanny Jaya dan Yahukimo Papua, Sistem pertanian Papua yang tidak berkelanjutan, kesehatan masyarakat yang rapuh, hingga pembangunan daerah otonomi baru (DOB) disebut pengamat pertanian dari Universitas Papua, Mulyadi, menjadi segelintir faktor penyebab kelaparan yang menimbulkan kematian masih terus terjadi, dan hal serupa juga masih dialami oleh daerah di Indonesia yang lainnya apabila pendekatan terhadap ketahanan pangan tidak berdasar pada kearifan local yang berkelanjutan. 

Musuh Besar kedua kemanusiaan adalah Wabah, hal ini baru saja kita alami pada saat Pandemi COVID antara 2019 – 2023, Pada abad pertengahan 1320 bakteri menumpang pada kutu yang berasal dari Asia Tengah, dan dalam waktu 2 tahun dengan menumpang pada tikus yang dibawa oleh gandum  wabah tersebut tiba di wilayah pesisir samudera Atelantik. Antara 75 juta sampai 200 juta orang mati di dunia, lebih dari ¼ populasi Eurasia, di Inggris 4 dari 10 orang mati dari 3,7 juta jiwa menjadi 2,2 juta setelah wabah, hal ini terjadi dalam 2 tahun, kota Florencia kehilangan limapuluh ribu orang mati dari seratus ribu orang warga, orang mengenalnya dengan Wabah Hitam. 

Pada tahun 1520 wabah cacar ikut terbawa dari para conquistador dari eropa spanyol dan Portugal kepada Masyarakat semenanjung Yucatan, INCA, MAYA dan AZTEK semua tertular wabah dan pada September 1520, sedikitnya 1/3 penduduk AZTEK musnah, 2 Abad kemudian penjelajah inggris captain James cook, memperkenalkan flu tuberkolusis dan sipilis ke pada penduduk Hawai, pada 1853 hanya 70.000 orang yang tersisa dari awal nya 500.000 jiwa, pada januari 1918 di parit pertahanan di prancis, pada akhir perang dunia pertama dalam beberapa bulan saja sekitar ½ milyar orang atau 1/3 populasi global ambruk akibat virus yang kemudian dikenal dengan nama Flu Spanyol, hal ini diakibatkan skala dari perang dunia pertama dimana amunisi, supply makanan dan persenjataan datang dari, Inggris, Amerika, Canada, Argentina, dan India. 

Bersamaan dengan tsunami wabah besar yang terjadi setiap beberapa decade dunia juga mengalami wabah epidemi local yang menyerang kekebalan tubuh manusia, kita menemukan cara untuk melindungi generasi muda kita dengan memperkenalkan Vaksin yang diharapkan dapat mengurangi resiko penyakit menjadi berkurang atau hilang sama sekali, seperti wabah Polio pada 1930 hingga 1950an di Amerika ditemukan Vaksin Polio yang diberikan secara Oral sehingga diharapkan pada 1980an dunia bisa bebas dari Polio, di Negeri kita pada 1995 ada program ORBA Pemberian Vaksin pada anak anak dibawah usia 15 tahun dan mencanangkan Indonesia bebas polio pada 1999, nyatanya hal ini bisa berhasil dan menjadi model bagi WHO, dimana kerjasama antara WHO dengan pemerintah local dapat memutus wabah endemic yang terjadi didalam suatu negara. 

Pada pertanyaan ketiga membawa kita pada sepanjang sejarah peradaban manusia selalu menganggap perang sebagai hal yang lumrah, dan perdamaian adalah bersifat sementara, karena perang masih menjadi sebuah opsi. Setiap kali para pejabat, para Jenderal, para ekonom dan pebisnis dunia selalu menganggap perang sebagai sebuah pilihan dan menjadi  bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan perencanaan masa depan, hal ini terjadi dari Jaman Batu, sampai Mesin Uap, dari jaman Amangkurat sampai Jaman Prabowo, para pengambil Keputusan selalu mempertimbangkan perang sebagai sebuah Opsi, yang mungkin terjadi, oleh karena itu kita memiliki yang namanya early warning system, system komando penanggulangan bahaya, dan system pertahanan udara yang semua ini di buat agar Ketika diserang maka kita bisa melawan atau setidaknya bisa mempertahankan diri. 

Ekonomi dunia berkembang dalam jaman perang, teknologi Mutahir yang kita kenal sekarang banyak diadopsi dari teknologi jaman perang, teknologi informasi IP address yang kita kenal dan menjadi identitas kita di dunia digital dahulunya merupakan cell kecil dalam komunikasi radio nirkabel pada perang dunia kedua. Ilmu bedah kedokteran berkembang karena adanya pembelajaran dari para ahli bedah pada jaman Perang, pada perang dunia kedua Jepang memperlihatkan pengaruh wabah daerah tropis pada tubuh manusia, di Mancuria, di hindia Belanda / Indonesia  para dokter Angkatan perang kerajaan Jepang mempelajari pengaruh penyakit penyakit tersebut dan cara menanggulanginya. 

Perang menjadi semacam blessing in disguise bagi perkembangan umat manusia, melalui percobaan yang tidak manusiawi namun bisa memberi kontribusi bagi kemanusiaan itu sendiri. Sebuah paradox, dalam konteks tahun 2020an perang Rusia – Ukraina memperlihatkan perkembangan signifikan dari teknologi nirawak yang membuat semua negara didunia tercengang dimana Alutsista modern (Tank)  yang harganya puluhan juta dollar dapat dihancurkan oleh Drone yang dipasangkan kemampuan untuk menjatuhkan bom dan bahkan drone bunuh diri. 

Hal ini merubah paradima pertahanan darat dan merubah cara awak tank dalam mempertahankan diri dengan menambahkan Jaring bahkan menggunakan senjata anti pesawat terbang tua sebagai alat pertahanan diri dari drone yang terbang rendah diantara tank yang sedang berperang. Serangan udara dari pihak Iran dan Hamas di Lebanon terhadap kota Telaviv di Israel juga memperlihatkan paradox yang sama, bahwa secanggih apapun system pertahanan udara hanya akan memperkecil resiko kerusakan tapi tidak menghilangkan sama sekali, dimana Iron dome Israel kewalahan menghadapi serangan yang bertubi dan dalam quantity yang sangat massive  dalam waktu yang singkat. 

Hal ini juga yang menjadi salah satu pertimbangan khusus bagi pemerintah Prabowo dengan  mengakuisisi kapal Induk ex Angkatan laut Italia Giuseppe Garibaldi. Kapal ini selain berkemampuan untuk menjadi kapal induk bagi Pesawat dan Helikopter konvensional, kapal ini memiliki kemampuan unik lainnya yaitu fungsi komando terapung bagi Drone. Dimana pada tahun 2004 Kapal sejenis yang lebih Modern Kapal kelas Trieste dan Cavour adalah kapal induk utama Angkatan Laut Italia yang memiliki kemampuan peluncuran Drone dan menggunakannya dalam Latihan Bersama NATO di laut Mediterania. 

Sementara Giuseppe Garibaldi menjadi laboratorium berjalan bagi perkembangan dua kapal modern tersebut, Pemerintah Prabowo juga berharap hal yang sama dimana Kapal Induk Ex Angkatan Laut Italia ini bisa menjadi kesempatan alih teknologi sekaligus menjadi Platform bagi pengembangan teknologi pertahanan nirawak bagi Indonesia. 

Yoval Noah Harari, menulis sebuah buku pada tahun 2015, yang dengan secara gamblang menggambarkan kepada kita ada tiga urusan yang sejak ribuan tahun yang lalu masih terjadi dan menjadi inti dari pemasalahan peradaban manusia, dalam konteks peradaban manusia modern skala penyelesainnya bisa ditanggulangi sehingga tidak menimbulkan kerusakan secara massive namun hal tersebut tetap saja terjadi. Walaupun secara skalanya tidak sebesar jaman Kuno maupun pada abad pertengahan namun sedikit banyak Kelaparan, Wabah dan Perang tetap menjadi masalah peradaban manusia yang secara paradox harusnya membuat peradaban manusia itu berkembang ke arah yang lebih baik. 

Yoval Noah Harari, 2015, Homo Deus: A Brief History of Tomorrow (448 hal), Jerusalem  

Post a Comment

0 Comments