BLACKPOST | Di negeri yang katanya subur makmur, ada ironi besar: mencuri uang rakyat jauh lebih mudah daripada menangkap pencuri itu sendiri. Mengapa demikian? Karena sistem kita lebih memanjakan koruptor daripada melindungi rakyat.
Korupsi bisa dilakukan hanya dengan tanda tangan, memo kecil, atau pertemuan singkat di ruang tertutup. Uang miliaran bisa berpindah tangan dalam hitungan jam. Tidak ada prosedur berbelit, tidak ada pemeriksaan panjang, dan hampir tidak ada risiko jika pelaku punya jabatan tinggi. Itulah sebabnya banyak pejabat lebih berani mencuri ketimbang bekerja jujur—hasilnya instan, hukumnya bisa diatur.
Sebaliknya, menangkap korupsi ibarat melawan gunung raksasa. Butuh audit panjang, bukti berlapis, saksi yang berani, serta aparat hukum yang bersih. Tapi bagaimana mungkin jika aparat itu sendiri sering “main mata”? Penegakan hukum macet, proses pengadilan molor bertahun-tahun, dan ujung-ujungnya vonis ringan. Bahkan ada koruptor yang hidup lebih mewah di penjara ketimbang rakyat miskin di luar.
Korupsi juga bukan lagi soal individu, tapi kerja kolektif. Pejabat, oknum aparat, bahkan elit partai politik saling melindungi. Mereka membangun tembok kokoh agar uang haram tetap aman di kantong mereka. Maka jangan heran jika rakyat yang berteriak keadilan dianggap pengganggu, sementara koruptor tetap dihormati di panggung pesta.
Budaya permisif memperparah keadaan. Ada masyarakat yang berkata, “yang penting kita kebagian proyek, nggak usah peduli uang negara dipotong.” Sikap ini membuat korupsi semakin dianggap normal, sementara kejujuran justru dipandang sebagai keluguan.
Indonesia tidak kekurangan hukum, tapi kekurangan keberanian. Tidak kekurangan aturan, tapi kekurangan teladan. Korupsi lebih mudah daripada menangkap korupsi karena bangsa ini masih lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan harga diri.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, jangan berharap pembangunan membawa kemakmuran. Jalan tol, gedung megah, atau proyek IKN tidak ada artinya kalau di baliknya berdiri kerajaan uang haram. Negeri ini akan tetap jadi pasar gelap para elit, sementara rakyat kecil hanya kebagian sisa remah.
Pertanyaan akhirnya sederhana: sampai kapan kita rela dipimpin pencuri yang lebih lihai daripada penegak hukum?
Perampok bergerak hanya karena dua hal: tekanan dan keuntungan. Mereka menjabat karena rakyat yang memberi jalan. Jadi, Rakyat yang memilih rakyat juga yang mengakhiri. (red/Op/BP)
------
Depok, 19 September 2025
Eman Sutriadi
0 Comments