Oleh Mohamad Fuad
BLACKPOST | Pergeseran perilaku warga Nahdlatul Ulama (NU) dari sosial santri ke sosial baru, fenomena sosial yang semakin terlihat dalam dua dekade terakhir.
Perubahan ini bukan berarti santri atau warga NU meninggalkan agama, tetapi terjadi transformasi orientasi hidup, cara berpikir, dan pola interaksi sosial-ekonomi.
1. Pola Pikir Santri (Tradisional NU)
Secara klasik, santri NU memiliki karakter:
Orientasi religius kuat: Hidup berpusat pada pengajian, pesantren, dan ritual keagamaan (tahlilan, manaqiban, haul).
Hierarki kiai santri; Kiai sebagai pusat otoritas moral, politik, dan sosial.
Ekonomi tradisional; banyak bergerak di sektor pertanian, perdagangan kecil, dan ekonomi rakyat.
Budaya kolektif; mengutamakan musyawarah, gotong royong, dan solidaritas jamaah.
Pandangan politik kultural; politik sebagai sarana menjaga tradisi, bukan tujuan kekuasaan semata.
Faktor Pergeseran ke Kelas Sosial Baru
a. Urbanisasi dan Pendidikan Modern
Santri atau anak NU banyak yang merantau ke kota besar, kuliah di universitas umum (UI, UGM, ITB, Universitas Swasta Besar dll.), atau bekerja di sektor industri.
Pendidikan tinggi mendorong cara pikir rasional, kritis, dan profesional, melampaui batas tradisi pesantren.
b. Ekonomi Pasar & Kelas Menengah Baru
NU melahirkan kelas menengah muslim profesional, pengusaha, PNS, dan birokrat.
Gaya hidupnya menuntut efisiensi, kompetisi, dan gaya konsumsi modern (kredit, investasi, bisnis digital).
c. Demokratisasi & Politik Elektoral
Reformasi membuka peluang politik; warga NU terlibat dalam partai, parlemen, dan birokrasi.
Pilihan politik kini berbasis kepentingan ekonomi dan identitas kelas, bukan semata fatwa kiai.
d. Pengaruh Media Sosial & Budaya Pop
Instagram, TikTok, YouTube mempopulerkan gaya hidup sekuler hiburan, fesyen, self-branding.
Anak muda NU lebih nyaman dengan logika global (trend, karier, kapital) dibanding pola pikir fiqh tradisional.
e. Fragmentasi Otoritas Keagamaan
Kiai tidak lagi satu-satunya sumber fatwa. Ustazd digital, influencer, dan komunitas daring menjadi alternatif. Otoritas agama bergeser ke pasar dan gagasan.
3. Dampak Pergeseran
Mobilitas sosial; warga NU naik kelas menengah, akses pendidikan dan ekonomi meningkat.
Pemikiran kritis; Demokratisasi pemikiran, lahir intelektual muslim progresif.
Peran strategis nasional; Banyak kader NU memimpin kementerian, BUMN, lembaga negara.
Erosi tradisi pesantren; Pengajian rutin, kitab kuning, dan amalan kultural menurun di kalangan urban.
Fragmentasi komunitas; Solidaritas jamaah melemah, muncul orientasi individualistik terjadi sock culture.
Ketegangan internal; Antara NU “kultural” (santri) dan NU “politik” (kelas menengah sekuler).
Bisa diambil catatan bahwa pergeseran ini adalah gejala modernisasi NU:
Dari basis santri ke kelas menengah sekuler bukan berarti meninggalkan Islam, tetapi menandakan integrasi warga NU ke dalam ekonomi modern dan budaya global sedang terjadi.
Tantangan NU ke depan adalah menjaga tradisi (turats) sambil mengartikulasikan Islam Nusantara dalam bahasa kelas menengah modern.
Masukan dan Strategis Struktural NU
Pesantren adaptif mengajarkan sains, teknologi, dan ekonomi kreatif tanpa meninggalkan kitab kuning tradisi salaf.
Kiai digital memperkuat dakwah di media sosial agar nilai-nilai santri tetap relevan.
Gerakan kultural urban menghidupkan tradisi NU di kota besar melalui komunitas profesional, majelis dzikir modern, dan festival kebudayaan. (red/OPN/BP)
0 Comments