BLACK POST | DEPOK | Ketika kabar wacana atau rencana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto mencuat, banyak hati rakyat tergetar bukan karena rasa bangga, melainkan karena luka lama yang belum pulih.
Sebab nama Soeharto tidak hanya melekat pada catatan pembangunan ekonomi, tetapi juga pada jejak penderitaan, represi, dan pelanggaran hak asasi manusia yang melahirkan gelombang reformasi 1998.
Memberikan gelar pahlawan kepada Soeharto berarti menghapus makna perjuangan reformasi, sebuah peristiwa heroik yang justru lahir dari perlawanan terhadap kekuasaan absolut yang ia ciptakan sendiri.
1. Reformasi 1998: Perlawanan terhadap Kekuasaan yang Menindas
Reformasi bukan sekadar peristiwa politik. Ia adalah ledakan moral bangsa yang menuntut berakhirnya kekuasaan tiranik.
Ribuan mahasiswa dan rakyat turun ke jalan bukan karena haus kekuasaan, melainkan karena haus akan keadilan, kebebasan, dan kemanusiaan.
Teriakan “Turunkan Soeharto!” bukan bentuk kebencian pribadi, melainkan seruan untuk menghentikan sistem yang selama 32 tahun mengekang kebebasan, membungkam kritik, dan memonopoli kebenaran.
Darah para mahasiswa Trisakti dan Semanggi menjadi saksi bahwa reformasi dibayar mahal dengan nyawa, air mata, dan keberanian.
2. Orde Baru: Antitesa dari Demokrasi dan Kemanusiaan
Soeharto memang meninggalkan catatan pembangunan — jalan, bendungan, sekolah, dan pertumbuhan ekonomi.
Namun pembangunan itu berdiri di atas ketidakbebasan dan ketakutan rakyatnya sendiri.
Selama kekuasaannya, hukum dijadikan alat legitimasi, partai politik dikontrol, pers dibungkam, dan rakyat dijauhkan dari hak menentukan nasibnya.
Ribuan orang ditangkap tanpa proses hukum. Gerakan mahasiswa, ulama, dan buruh yang menuntut keadilan diperlakukan seperti musuh negara.
Korupsi dan kolusi menjadi budaya kekuasaan, mengakar hingga generasi setelahnya.
Memberikan gelar pahlawan kepada figur yang melanggengkan sistem seperti itu berarti menormalisasi kejahatan politik sebagai jasa pembangunan.
3. Luka Kolektif dan Pengkhianatan atas Semangat Reformasi
Reformasi 1998 adalah bentuk pertanggungjawaban sejarah bangsa bahwa kekuasaan tanpa batas telah membawa penderitaan.
Ketika rakyat menggulingkan Soeharto, mereka tidak hanya menumbangkan seorang presiden, tetapi juga menumbangkan ideologi ketakutan yang mengakar selama tiga dekade.
Karena itu, bila hari ini negara memberi gelar pahlawan kepadanya, maka itu berarti mengkhianati semangat reformasi, menghapus makna perjuangan mahasiswa yang gugur,
dan melukai nurani bangsa yang berjuang agar tidak lagi diperintah oleh kekuasaan yang represif.
4. Pahlawan Bukan Karena Kekuasaan, Tapi Karena Pengorbanan
Pahlawan adalah mereka yang berjuang untuk rakyat, bukan mereka yang menundukkan rakyat.
Pahlawan adalah yang menegakkan keadilan, bukan yang menutupinya. Pahlawan adalah yang rela kehilangan kekuasaan demi kebenaran, bukan yang mempertahankan kekuasaan dengan darah dan air mata.
Jika gelar pahlawan diberikan kepada Soeharto, maka bangsa ini sedang membalik makna kepahlawanan dari pengorbanan menjadi kekuasaan, dari keberanian menjadi ketakutan.
5. Tanggung Jawab Negara terhadap Sejarah
Bangsa yang besar bukan bangsa yang mudah melupakan, melainkan bangsa yang jujur terhadap masa lalunya. Soeharto memang bagian dari sejarah Indonesia, tetapi tidak semua bagian sejarah layak dipuja.
Ada bab-bab gelap yang harus dibaca dengan keberanian, bukan dibungkus dengan gelar.
Pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto bukanlah bentuk penghormatan terhadap sejarah, melainkan bentuk penyimpangan terhadap nurani sejarah bangsa.
Antitesa Reformasi, Luka Demokrasi
Reformasi 1998 adalah simbol kebangkitan rakyat dari penindasan. Gelar pahlawan kepada Soeharto adalah simbol penghianatan terhadap kebangkitan itu. Ia bukan sekadar kontroversi politik, melainkan pengingkaran moral terhadap perjuangan rakyat sendiri.
Soeharto mungkin akan dikenang sebagai tokoh penting, namun pahlawan nasional seharusnya mereka yang membebaskan rakyat dari ketakutan bukan mereka yang membuat rakyat hidup dalam ketakutan selama 32 tahun.
Penulis: Mohamad Fuad

0 Comments