Indonesia Akan Kembali Gelap Saat Integritas Dikepung Kekuasaan


Oleh: Mohamad Fuad


BLACKPOST | Ketika Menkeu Purbaya berdiri di tengah pusaran politik kekuasaan, ia bukan sekadar teknokrat yang mengatur angka, melainkan simbol integritas dan keberanian dalam melawan gelombang arus kepentingan gelap yang menguasai sistem.


Ia mencoba menyalakan cahaya transparansi dan akuntabilitas di tengah struktur negara yang mulai kembali tertutup oleh bayang-bayang kompromi politik, korupsi sistemik, dan tekanan elite yang takut kehilangan kenyamanan mereka.


Namun, cahaya itu mulai meredup ketika Presiden Prabowo Subianto  yang awalnya diharapkan melanjutkan agenda revolusi sistem keuangan bersih  mulai berjarak dari perjuangan Purbaya. Saat tekad teknokratik menabrak tembok pragmatisme politik, Indonesia kembali menapaki jalan gelap yang pernah ditinggalkan.


Para politisi hitam  mereka yang hidup dari permainan proyek, rente kebijakan, dan monopoli fiskal melihat Purbaya sebagai ancaman. Ia bukan hanya memotong aliran dana gelap, tapi juga mengguncang ekosistem koruptif yang selama ini menopang kekuasaan banyak pihak. 


Maka, serangan terstruktur dan sistematis pun dimulai, isu diframing, kebijakan dipelintir, dan loyalitas di sekitar presiden mulai dibeli oleh kepentingan.


Di tengah situasi itu, para menteri yang merasa terancam ikut membangun dinding pertahanan untuk menyelamatkan kepentingannya. Bagi mereka, langkah Purbaya bukan sekadar kebijakan keuangan tapi pembongkaran jejaring kepentingan ekonomi-politik yang selama ini tersembunyi di balik jargon pembangunan.


Purbaya pun berdiri sendirian, menghadapi badai dari luar dan dalam kabinetnya sendiri.


Ketika integritas mulai dikeroyok, Indonesia pun kembali gelap bukan karena listrik padam, tapi karena nurani bangsa yang redup. Kebenaran menjadi sunyi, data disembunyikan, dan transparansi digantikan oleh narasi buatan. Publik hanya melihat permukaan: pembangunan yang terus dipoles, proyek yang terus diumumkan, sementara fondasi moralnya retak pelan-pelan di dalam istana kekuasaan.


Namun sejarah selalu mencatat: negeri tidak hancur karena musuh dari luar, melainkan karena pengkhianatan dari dalam. Dan di tengah kegelapan itu, perjuangan Purbaya menjadi simbol bahwa secercah cahaya integritas masih menyala kecil, tapi cukup untuk menunjukkan arah bagi mereka yang masih percaya pada negara yang bersih, adil, dan berdaulat atas uang rakyatnya sendiri. (red/opn/BP) 

Post a Comment

0 Comments